KALIMAT TUNGGAL DAN KALIMAT MAJEMUK


Kalimat
a.    Pengertian
Kalimat adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang mengandung pikiran yang lengkap dan punya pola intonasi akhir.
            Contoh: Ayah membaca koran di teras belakang.

  b.  Pola-pola kalimat
Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu.
                 Pola kalimat I = kata benda-kata kerja
Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul.
Pola kalimat I disebut kalimat ”verbal”
Pola kalimat II = kata benda-kata sifat
Contoh: Anak malas. Gunung tinggi.
Pola kalimat II disebut pola kalimat ”atributif”
Pola kalimat III = kata benda-kata benda
Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru
Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional. Kalimat ini mengandung kata kerja bantu, seperti: adalah, menjadi, merupakan.
Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial
Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor.
Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial


Jenis Kalimat

1.   Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti pembentukan kalimat (subjek dan predikat) dan boleh diperluas dengan salah satu atau lebih unsur-unsur tambahan (objek dan keterangan), asalkan unsur-unsur tambahan itu tidak membentuk pola kalimat baru.

Kalimat Tunggal
Susunan Pola Kalimat
Ayah merokok.
Adik minum susu.
Ibu menyimpan uang di dalam laci.
S-P
S-P-O
S-P-O-K


2.   Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat-kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk dapat terjadi dari:
a.   Sebuah  kalimat  tunggal   yang  bagian-bagiannya  diperluas     sedemikian    rupa sehingga perluasan itu membentuk satu atau lebih pola kalimat baru, di samping pola yang sudah ada.
Misalnya:  Anak itu membaca puisi. (kalimat tunggal)
Anak yang menyapu di perpustakaan itu sedang membaca puisi.
(subjek pada kalimat pertama diperluas)
b. Penggabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal sehingga kalimat yang baru mengandung dua atau lebih pola kalimat.
        Misalnya :  Susi menulis surat (kalimat tunggal I)
         Bapak membaca koran (kalimat tunggal II)
                     Susi menulis surat dan Bapak membaca koran.
Berdasarkan sifat hubungannya, kalimat majemuk dapat dibedakan atas kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran.

1) Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang hubungan antara pola-pola kalimatnya sederajat. Kalimat majemuk setara terdiri atas:
a.  Kalimat majemuk setara menggabungkan. Biasanya menggunakan kata-kata tugas: dan,   serta, lagipula, dan sebagainya.
      Misalnya: Sisca anak yang baik lagi pula sangat pandai.
b.   Kalimat majemuk serta memilih. Biasanya memakai kata tugas: atau, baik, maupun.
                   Misalnya: Bapak minum teh atau Bapak makan nasi.
c.   Kalimat majemuk setara perlawanan. Biasanya memakai kata tugas: tetapi, melainkan.
                   Misalnya: Dia sangat rajin, tetapi adiknya sangat pemalas.

2) Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk yang terdiri dari perluasan kalimat tunggal, bagian kalimat yang diperluas sehingga membentuk kalimat baru yang disebut anak kalimat. Sedangkan kalimat asal (bagian tetap) disebut induk kalimat. Ditinjau dari unsur kalimat yang mengalami perluasan dikenal adanya:
a.   Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat penggati subjek.
       Misalnya :   Diakuinya  hal itu
                                         P             S
                             Diakuinya bahwa ia yang memukul anak itu.
                                            anak kalimat pengganti subjek
           b.  Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti predikat.
       Misalnya :  Katanya begitu
                            Katanya bahwa ia tidak sengaja menjatuhkan gelas itu.
                                                anak kalimat pengganti predikat
           c.   Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti objek.
       Misalnya  :   Mereka sudah mengetahui hal itu.
                                  S             P                             O
                              Mereka sudah mengetahui bahwa saya yang mengambilnya.
                                                                                  anak kalimat pengganti objek
          d.   Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti keterangan.
       Misalnya  :   Ayah pulang malam hari
                                     S        P             K
                              Ayah pulang ketika kami makan malam
                                                     anak kalimat pengganti keterangan

3) Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk hasil perluasan atau hasil gabungan beberapa kalimat tunggal yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga pola kalimat.
Misalnya: Ketika ia duduk minum-minum, datang seorang pemuda berpakaian bagus, dan menggunakan kendaraan roda empat.
                        Ketika ia duduk minum-minum
                                                                 pola atasan
                                                  datang seorang pemuda berpakaian bagus
                                                                        pola bawahan I
                                                  datang menggunakan kendaraan roda empat
                                                                       pola bawahan II

                                                                                 

3. Kalimat Inti, Luas, dan Transformasi
a.    Kalimat inti
Kalimat inti adalah kalimat mayor yang hanya terdiri atas dua kata dan sekaligus   
menjadi  inti kalimat.
Ciri-ciri kalimat inti:
1)       Hanya terdiri atas dua kata
2)       Kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat
3)       Tata urutannya adalah subjek mendahului predikat
4)       Intonasinya adalah intonasi ”berita yang netral”. Artinya: tidak boleh   
          menyebabkan perubahan atau pergeseran makna laksikalnya..
b.   Kalimat luas
Kalimat luas adalah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata, tetapi lebih.

c.   Kalimat transformasi
Kalimat transformasi merupakan kalimat inti yang sudah mengalami perubahan atas keempat syarat di atas yang berarti mencakup juga kalimat luas. Namun, kalimat transformasi belum tentu kalimat luas.
Contoh kalimat  Inti, Luas, dan Transformasi
a.       Kalimat Inti. Contoh: Adik menangis.
b.       Kalimat Luas. Contoh: Radha, Arief, Shinta, Mamas, dan Mila sedang belajar  
          dengan serius, sewaktu pelajaran matematika.
c.        Kalimat transformasi. Contoh:

i)        Dengan penambahan jumlah kata tanpa menambah jumlah inti, sekaligus 
          juga adalah kalimat luas: Adik menangis tersedu-sedu kemarin pagi.
ii)       Dengan penambahan jumlah inti sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik  
          menangis dan merengek kepada ayah untuk dibelikan komputer.
iii)      Dengan perubahan kata urut kata. Contoh: Menangis adik.
iv)      Dengan perubahan intonasi. Contoh: Adik menangis?


4. Kalimat Mayor dan Minor
a.    Kalimat mayor
Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
Contoh :    Amir mengambil buku itu.
Arif ada di laboratorium.
             Kiki pergi ke Bandung.
             Ibu segera pergi ke rumah sakit menengok paman, tetapi ayah menunggu  
             kami  di rumah Rati karena kami masih berada di sekolah. 

b.   Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur pusat. 
    Contoh:     Diam!
 Sudah siap?
 Pergi!
              Yang baru!
              Kalimat-kalimat di atas mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
              Contoh:
              Amir mengambil.
 Arif ada.
 Kiki pergi
 Ibu berangkat-ayah menunggu.
Karena terdapat dua inti, kalimat tersebut disebut kalimat mayor.


5. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat berisikan gagasan pembicara atau penulis secara singka, jelas, dan tepat.
Jelas      : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Singkat  : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata.
Tepat      : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.

Kalimat Tidak Efektif
Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.

Sebab-Sebab Ketidakefektifan Kalimat

 1.   kontaminasi= merancukan 2 struktur benar  1 struktur salah
contoh :

  • diperlebar, dilebarkan  diperlebarkan (salah)
  •  memperkuat, menguatkan  memperkuatkan (salah)
  • sangat baik, baik sekali  sangat baik sekali (salah)
  • saling memukul, pukul-memukul  saling pukul-memukul (salah)
  • Di sekolah diadakan pentas seni. Sekolah mengadakan pentas seni  Sekolah mengadakan  pentas seni (salah)

2.   pleonasme= berlebihan, tumpang tindih
contoh :

  • para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)
  • para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
  • banyak siswa-siswa (banyak siswa)
  • saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
  • agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
  • disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)


3.    tidak memiliki subjek
contoh:

  • Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
  • Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar) ??
  • Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)


4.   adanya kata depan yang tidak perlu

  • Perkembangan  daripada teknologi informasi sangat pesat.
  • Kepada siswa kelas I berkumpul di aula.
  • Selain daripada bekerja, ia juga kuliah.
5.   salah nalar

  • waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
  • Mobil Pak Dapit mau dijual. (Apakah bisa menolak?)
  • Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
  • Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)
  • Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang)
  • Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
  • Bola gagal masuk gawang. (Ia gagal meraih prestasi) (kata gagal lebih untuk subjek bernyawa)      

            6.   kesalahan pembentukan  kata 
  • mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
  • menyetop seharusnya menstop
  • mensoal seharusnya menyoal
  • ilmiawan seharusnya ilmuwan
  • sejarawan seharusnya ahli sejarah


7.    pengaruh bahasa asing

  • Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (seharusnya tempat)
  • Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan)
  • Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)

  
8.   pengaruh bahasa daerah 

  • … sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
  • … oleh saya. (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona)
  • Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)

.
     Konjungsi
Konjungsi antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf.
Konjungsi atau kata sambung adalah kata-kata yang menghubungkan bagian-bagian kalimat, menghubungkan antarkalimat, antarklausa, antarkata, dan antarparagraf.
1.   Konjungsi antarklausa
a.  Yang sederajat: dan, atau, tetapi, lalu, kemudian.
b.  Yang tidak sederajat: ketika, bahwa, karena, meskipun, jika, apabila.
2.    Konjungsi antarkalimat: akan tetapi, oleh karena itu, jadi, dengan demikian.
3.    Konjungsi antarparagraf: selain itu, adapun, namun.

Tags:

Dari Penulis

Terima kasih sudah berkenan berkunjung di blog saya. Blog ini di dedikasikan bagi kemajuan bidang pendidikan Indonesia khususnya untuk Santriwan dan Santriwati MA Negeri Sumpiuh. Silahkan berkomentar pada kolom komentar demi semakin majunya pendidikan di Indonesia.

0 komentar

Silahkan Berkomentar

Gunakan peramban web Mozilla Firefox untuk tampilan terbaik blog ini.